Showing posts with label Makalah. Show all posts
Showing posts with label Makalah. Show all posts

Analisis Strategi Konseling Berwawasan Budaya Indonesia

Analisis Strategi Konseling Berwawasan  Budaya Indonesia


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Strategi konseling yang dipilih oleh konselor untuk membantu memecahkan masalah konseli merupakan komponen penting dalam proses konseling. Suatu strategi konseling biasanya berkaitan dengan teori atau model konseling tertentu, masing-masing teori atau model konseling memiliki seperangkat strategi konseling yang terintegrasi kedalam keseluruhan proses konseling. Thompson (2003) menyatakan bahwa saat ini telah ada lebih dari 300 strategi konseling dari berbagai orientasi teoritik.

DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR

DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR
BAB II

PEMBAHASAN

DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR

2.1 Pengertian Diagnosis

A. diagnosis

Diagnosis merupakan istilah teknis dibidang medis. Menurut Thorndike dan Hagen (1955:530-532), diagnosis dapat diartikan sebagai berikut :

1. Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama mengenai gejala – gejalanya.

2. Studi yang seksama terhadap fakta tentang sesuatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan – kesalahan dan sebagainya yang essensial.

3. Keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang seksaama atas gejala – gejala atau fakta tentang suatu hal.

Dari ketiga pengertian tersebut diatas dapat kita simpulkan bahwa di dalam konsep diagnosis, scera implicit telah mencakup pula konsep prognosisnya. Dengan demikian, didalam pekerjaan diagnosis bukan hanya sekedar mengidentifikasi jenis, karakteristik maupun latar belakang dari suatu kelemahan atau penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.

B. Pengertian kesuitan belajar.

kesulitan belajar adalah suatu kondisi proses belajar yang ditandai hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan oleh faktor intelegensi yang rendah(kelainan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non intelegensi, dengan demikian , iQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar, karena itu dalam rangka memberikan bimbingan yang tepat kepada setiap anak didik perlu memahami masalah-masalah yang berhubungan dengan kesulitan belajar.

Burton (1952:622-624) mengidentifikasikan bahwa seorang siswa dapat dianggapa mengalami kesulitan belajar jika yang bersangkutan mengalami kegagalan (failure) tertentu dalam mencapai tujuan – tujuan belajarnya. Kegagalan belajar didefinisikan oleh Burton sebagai berikut :

1. Siswa dikatakan gagal apabila dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan (level of mastery) minimal dalam pelajaran tertentu seperti yang telah ditetapkan oleh orang dewasa atau guru.

2. Siswa dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak dapat mencapai prestasi yang semestinya, sedangkan dalam prediksi hal tersebut dapat ia raih dengan hasil yang memuaskan.

3. Siswa dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak berhasil mencapai tingkat pengusaaan (level of mastery) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan pada tingkat pelajaran berikutnya.

C. Diagnosis Kesulitan Belajar

Dengan mengaitkan kedua pengertian diatsa maka kita dapat mendefinisikan diagnosis kesulitan belajar sebagai suatu proses upaya untuk memahami jenis dan karakteristik serta latar belakang kesulitan – kesulitan belajar dengan menghimpun berbagai informasi selengkap mungkin sehingga mempermudah dalam pengambilan kesimpulan guna mencari alternatif kemungkinan pemecahannya.


2.2 gejala dan ciri.

A. Gejala Kesulitan Belajar.

Pada dasarnya bila setiap kesulitan belajar terjadi, latar belakangnya akan bersumber pada komponen – komponen yang berpengaruh atas berlangsungnya proses belajar – mengajar sendiri.

Berbagai variabel yang mempengaruhi proses belajar – mengajar menurut loree (1970:121-133) terdiri atas:

1. Learning Variables, Mencakup:

a. Learning Experience Variables, antara lain mengenai

· Method Variables, menyangkut kuat lemahnya motivasi untuk belajar, intensif – tidaknya bimbingan guru dan ada – tidaknya kesempatan untuk praktikum.

· Task Variables, mencakup menarik-tidaknya apa yang harus dipelajari, bermakna- tidaknya apa yang dipelajari dan tersedia-tidaknya fasilitas belajar yang memadai.

b. Enviromental Variables, yang menyangkut iklim belajar yang bergantung pada faktor tersedianya waktu yang cukup untuk belajar dan tersedianya fasilitas belajar yang memadai

2. Organismic Variables, mencakup

1. Characteristic of the learners, antara lain tingkatan inttelegensi, usia dan taraf kematangan, jenis kelamin dan kesiapan untuk belajar.

2. Mediating Processes, kondisi yang lazim terdapat dalam diri swasta, antara lain, intelegensi, persepsi, motivasi, takut, cemas dan tekanan batin yang sebagainya turut berperan dalam proses berperilaku belajar.

3. Response Variables

Jika dikelompokkan berdasarkan tujuan pendidikan dapat dilihat sebagai berikut.:

1. Tujuan – tujuan kognitif , seperti pengetahuan, konsep – konsep dan keterampilan pemecahan masalah.

2. Tujuan – tujuan afektif, seperti sikap – sikap, nilai – nilai, minat dan apresiasi.

3. Tujuan – tujuan pola pola bertindak, antara lain ;

· Keterampilan psikomotoris, seperti menulis, mengetik, melukis, dsb.

· Kompetensi – kompetensi untuk menyelenggarakan pertemuan, berpidato, memimpin diskusi, pertunjukan, dsb.

· Kebiasaan – kebiasaan, seperti kebiasaan hidup sehat, kejujuran, kerapian, dsb.

individu yang mengalami kesulitan belajar menunjukkan gejala sebagai berikut.

1. Hasil belajar yang dicapai rendah dibawah rata-rata kelompoknya.

2. Hasil belajar yang dicapai sekarang lebih rendah disbanding sebelumnya.

3. Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.

4. Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar.

5. Menunjukkan sikap yang kurang wajar, misalnya masa bodoh dengan proses belajar dan pembelajaran, mendapat nilai kurang tidak menyesal, dst.

6. Menunjukkan perilaku yang menyimpang dari norma, misalnya membolos, pulang sebelum waktunya, dst.

7. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, misalnya mudah tersinggung, suka menyendiri, bertindak agresif, dst.

B. Ciri-Ciri.

Ciri-ciri kesulitan belajar yang dapat dan sering didiagnosis adalah:

1. Gangguan perhatian pada anak – anak

Anak tidak mampu memusatkan perhatiannya kepada sesuatu hal atau objek tertentu untuk jangka waktu yang cukup lama. Beberapa ahli menyebutkan perhatian anak pada kelompok ini kurang dari 10 detik.

2. Distrakbilitas

Akibat kekurangan perhatian, penderita mempunyai kecenderungan untuk memperhatikan rangsang yang kurang menonjol, yang dapat berupa distrikdistrikbilitas visual, auditoris, dan internal.

Pada distribilitas visual, konsentrasi visual dialihkan ke benda- benda yang dilihatnya. Kedua matanya terus menerus menyelidik dan mencari pengalaman visual yang lebih seru serta lebih baik, akibatnya penderita sering memperlihatkan kekeliruan khas sewaktu membaca dan cenderung melompati kata – kata atau bahkan melewati begitu saja kalimatnya.

Pda distrikbilitas auditoris menyebabkan perhatian mudah teralih kepada suara – suara latar belakang. Pada distrikbilitas internal menyebabkan penderita terganggu oleh rangsangan yang berasal dari dalam dirinya berupa pikiran, ngatan, maupun asosiasiaya sendiri. Terlihat penderita sering melamun sehingga tidak memperhatikan pelajaran di kelas.

3. Impulsif

Artinya cenderung bertindak tanpa mempertimbangkan akibat tindakana itu mereka cenderung memberikan respon pertama yang msuk dalam pikirannya dan lebih senang “cepat selesai” dalam mengerjakan sesuatu dan tidak mengutamakan ketelitian. Akibat impulsivitas, penderita tidak tepat dalam membaca, mengeja dan berhitung meskipunkonsep dasarnya telah dikuasai dengan baik.

4. Kurang Ulet

Penderita akan menunjuukan sifat kurang ulet dalam bekerja sehingga pekerjannya jarang ernah selesai, selain itu juga akan mudah lelah sehingga berpikir lama kan mudah menguap, menggeliat, biasanya jam tidur juga tidak berimbang, siang hari suka tidur dan pada malam hari sering terbangun.

5. Selalu Berubah

Perhatian penderita akan sangat bergantung pada motivasinya, pada motivasi yang tinggi fokus perhatian akan lebih tajam, misalnya ; mengikuti acara televisi tertentu.

6. Inkoordinasi

Artinya sukar melakukan kegaiatn motorik halus sehingga mengalami keslitan dalam menyalakan korek api, bermasalah dengan resleting, dan lain – lain.


2.3 kedudukan diagnosis kesulitan belajar.

Ketidak berhasilan dalam proses belajar mengajarkan dalam mancapai katuntasan bahan tidak dapat dikembalikan kepada hanya pada satu faktor akan tetapi kepada banyak faktor yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Faktor yang dapat kita persoalan adalah siswa yang dapat kita persoalan adalah siswa yang belajar, jenis kesulitan yang dihadapi siswa dan kegiatan yang terlibat dalam proses.yang penting dalam proses diagnosis kesulitan adalah menemukan letak kesulitan dan jenis kesulitan dan jenis kesulitan yang dihadapi iswa agar pengajar perbaikannya (learning corrective) yang dilakukan dapat dilaksanakan secara efektif. Bila tela ditemukan bahwa sejumlah siswa tidak memenuhi criteria persyaratan ketuntasan yang telah ditetapkan, kegiatan diagnoss terutama harus ditunjukan kepada:

· Bakat yang dimiliki siswa yang berbeda antarayang satu dari yang lainnya.

· Ketekunan dantingkat usaha yang dilakukan siswa dalam menguasai bahanyang dipelajarinya

· Waktu yang tersedia yang tersedia yang dapatsesuai dengan tuntutan dan kebutuhan serta karakteristik individu.

· Kemampuan siswa untuk memahami tugas-tugas belajarnya.

· Ingkat dari jenis kesulitan yang diderita siswa ssehingga dapat ditentukan perbaikannya apa cukup dengan cara yang sama mengambil alternative kegiatan lain melalui pengajaran remedial.


2.4 latar belakang diagnosis kesulitan belajar.

Fenomena kesulitan beljar seorang siswa biasanya tampak jelas dari menurunnya kinerja akademik atau belajarnya. Namun, kesulian belajar juga dapat dibutikan dengan menculnya kalainan prilaku (misbehavior) siswa seperti kesukaan berteriak didalam kelas, mengusik teman, berkelahi, sering tidak masuk sekolah dan sering minggat dari sekolah. Menurut para ahli pendidikan, hasil belajar yang terdapat dalam diri peserta didik itu sendiri yang disebutkan faktor internal, dan yang terdapat diluar diri peserta didik yang disebut dengan eksternal.

menurut Burton ( 1952 : 633 – 640 ), variabel yang mempengaruhi proses belajar mengajar dapat dikelompokan menjadi dua faktor, yaitu faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa.

A. Faktor – faktor dari dalam diri siswa, anatara lain ;

Ø Kelemahan secara fisik, seperti tidak berkembangnya susunan syaraf pusat karena cacat atau sakit, kurang berkembangnya panca indera sehingga menyulitkan proses interaksi penyakit menahun dan ketidakseimbangan perkembangan dan reproduksi.

Ø Kelemahan – kelemahan secara mental, seperti cacat mental, kurang semangat, serta trauma.

Ø Kelemahan – kelemahan emosional, seperti terdapatnya rasa tidak aman, tercekam rasa phobia, maupun ketidakmatangan.

Ø Kelemahan – kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan yang salah, seperti banyak melakukan kegiatan yang bertentangan dengan aktivitas sekolah.

Ø Tidak memiliki keterampilan dan pengetahuan dasar yang diperlukan, seperti membaca, menghitung, dsb.

B. Faktor – faktor dari luar diri siswa, antara lain ;

a. Kurikulum yang seragam ( uniform ), bahan dan buku sumber yang tidak sesuai dengan tingkat – tingkat kematangan.

b. Terlalu berat beban belajar / mengajar bagi siswa / guru.

c. Terlalu besar populasi siswa dalam kelas.

d. Terlalu banyak terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler.

e. Kekurangan gizi.

Menurut Burton, sebagaimana dikutip oleh Abin S.M. (2002 : 325-326), faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar individu dapat berupa faktor internal, yaitu yang berasal dari dalam diri yang bersangkutan, dan faktor eksternal, adalah faktor yang berasal dari luar diri yang bersangkutan.

1. Faktor Internal

Yang dimaksud dengan faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri mahasiswa. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor kejiwaan dan faktor kejasmanian.

· Faktor kejiwaan, antara lain :

1) minat terhadap mata kuliah kurang;

2) motif belajar rendah;

3) rasa percaya diri kurang;

4) disiplin pribadi rendah;

5) sering meremehkan persoalan;

6) sering mengalami konflik psikis;

7) integritas kepribadian lemah.

· Faktor kejasmanian, antara lain :

1) keadaan fisik lemah (mudah terserang penyakit);

2) adanya penyakit yang sulit atau tidak dapat disembuhkan;

3) adanya gangguan pada fungsi indera;

4) kelelahan secara fisik.

2. Faktor Eksternal

Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah faktor yang berada atau berasal dari luar mahasiswa. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

a. Faktor instrumental

Faktor-faktor instrumental yang dapat menyebabkan kesulitan belajar mahasiswa antara lain :

1) Kemampuan profesional dan kepribadian dosen yang tidak memadai;

2) Kurikulum yang terlalu berat bagi mahasiswa;

3) Program belajar dan pembelajaran yang tidak tersusun dengan baik;

4) Fasilitas belajar dan pembelajaran yang tidak sesuai dengan kebutuhan.

b. Faktor lingkungan

Faktor lingkungan meliputi lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Penyebab kesulitan belajar yang berupa faktor lingkungan antara lain :

1) Disintegrasi atau disharmonisasi keluarga;

2) Lingkungan sosial kampus yang tidak kondusif;

3) Teman-teman bergaul yang tidak baik;

4) Lokasi kampus yang tidak atau kurang cocok untuk pendidikan.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama mengenai gejala – gejalanya.

kesulitan belajar adalah suatu kondisi proses belajar yang ditandai hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan oleh faktor intelegensi yang rendah(kelainan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non intelegensi, dengan demikian , iQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar, karena itu dalam rangka memberikan bimbingan yang tepat kepada setiap anak didik perlu memahami masalah-masalah yang berhubungan dengan kesulitan belajar.

Menurut Burton, sebagaimana dikutip oleh Abin S.M. (2002 : 325-326), faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar individu dapat berupa faktor internal, yaitu yang berasal dari dalam diri yang bersangkutan, dan faktor eksternal, adalah faktor yang berasal dari luar diri yang bersangkutan.

3.2 saran

Makalah ini jauh dari kesempurnaan, kritik dan masukan dari pembaca dapat menambah kesempurnaan dari makalah ini. Muda-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua terutama bagi penulis.

DAFTAR PUSTAKA

Abin, S.M. (2002) Psikologi Pendidikan : Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Koestoer Partowisastro dan A. Hadisuparto.(1998) Diagnosis dan Pemecahan Kesulitan Belajar : Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

Siti Mardiyati et al. (1994) Layanan Bimbingan Belajar. Surakarta : Penerbit UNS.

Warkitri, H. et al. (1990) Penilaian Pencapaian Hasil Belajar. Jakarta : Karunika.

Bidang pendidikan .blogspot.com/2010/12/pngertian-dan-latar-belakang.html?m=1

KONSELING EGO (KONEGO)

KONSELING EGO (KONEGO)
MAKALAH

MODEL MODEL KONSELING (MOMOKO)

Tentang

KONSELING EGO (KONEGO)


OLEH :

KELOMPOK II

BK 012 E

NURMAILIZA SARI 
 12060141

NORIMAR JUNITA 
12060150

NOVI ERISTA 
12060164

EVA SUSIETI 
 12060166

RIGITA 
 12060159


DI BIMBING OLEH :

Dra. Hj. Fitria Kasih.,M.Pd.,Kons

Nofrita.,S.Pd.I.,M.Pd. Kons



PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

PADANG

2014

==================================================

Konseling Psikoanalisis Klasik

Konseling Psikoanalisis Klasik
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengantar Konseling Psikoanalisis Klasik

Secara etimologis Psikoanalisis dapat diartikan dengan analisa jiwa. Pendekatan teori psikonanalisis klasik tidak hanya meninjau tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari, tetapi justru melihat dasar-dasar atau latar belakang dari munculnya tingkah laku tersebut, jadi dapat dikatakan bahwa psikoanalisis klasik meninjau secara mendalam pada psikis manusia, oleh karena itu Psikoanalisis klasik juga sering disebut dengan psikologi dalam/dept psychology (Taufik, 2009: 2)

Memahami Makna Budaya

Memahami Makna Budaya
BAB II
PEMBAHASAN
MEMAHAMI MAKNA LINTAS BUDAYA

A. Pengertian Budaya

Budaya adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cipta, karsa, dan rasa. Kata budaya sebenarnya berasal dari bahasa Sanskerta budhayah yaitu bentuk jamak kata buddhi yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa Inggris, kata budaya berasal dari kata culture, dalam bahasa Belanda diistilahkan dengan kata cultuur, dalam bahasa Latin berasal dari kata colera. Colera berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, mengembangkan tanah (bertani). Pengertian ini kemudian berkembang dalam arti culture, yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam.

MAKALAH TEKNIK-TEKNIK KONSELING (Teknik Transference, Teknik Counter Transference, Teknik Sensitisasi, dan Teknik Disensitisasi)

MAKALAH TEKNIK-TEKNIK KONSELING (Teknik Transference, Teknik Counter Transference,  Teknik Sensitisasi, dan Teknik Disensitisasi)
BAB II

PEMBAHASAN

A. Teknik Transference

Istilah transference (pemindahan) dalam pengertian yang luas menunjukan pertanyaan perasaan klien terhadap konselor, apakah berupa reaksi rasional kepada pribadi konselor atau proyeksi yang tidak sadar dari sikap-sikap dan streteotipe sebelumnya. Secara psikoanalisa pemindahan merupakan satu proses dimana sikap klien sebelumnya ditanyakan kepada orang lain atau secara tidak sadar diproyeksi kepada konselor.

MAKALAH BK KARIR

MAKALAH BK KARIR
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Pekerjaan yang memuaskan sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya, maka diperlukan perencanaan karir secara matang. Dalam konteks pendidikan upaya membantu siswa dalam merencanakan pemilihan jabatan atau pekerjaan di masa mendatang secara tepat merupakan aspek yang sangat krusial, sehingga telah menempatkan pentingnya layanan bimbingan karir bagi siswa sebagai bagian integral dari layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Bahkan, apabila ditinjau dari perspektif sejarah lahirnya bimbingan dan konseling tidak lepas dari upaya untuk membantu siswa-siswa mendapatkan lapangan kerja yang cocok sesudah mereka meninggalkan bangku sekolah, melalui gerakan bimbingan jabatan atau masalah karir.
Di Indonesia sendiri, pentingnya bimbingan karir bagi para siswa, khususnya di tingkat SMA sudah dirasakan sejak lama, dan sejak ditetapkannya Kurikulum tahun 1984 bimbingan karir mulai diformalkan, sehingga telah menjadi penampang dari keseluruhan bimbingan dan konseling di sekolah. Namun karena sempitnya pemahaman para konselor di sekolah, sehingga dalam pelaksanaanya sering terjadi malpraktek (dianggap sebagai bidang studi sehingga diajarkan), tidak diikuti dengan assesmen yang tepat, informasi pekerjaan tidak diberikan secara mendalam, terpadu, dan komprehensif, serta kurang dilaksanakan secara intensif. Akibatnya hasil-hasil dari bimbingan karir tersebut masih jauh dari apa yang diharapkan.

Rumusan Masalah
Apa itu hakekat kerja, okupasi dan karir.
Apa yang dimaksud dengan manusia kerja dan karir.
Bagaimana struktur kerja di Indonesia.
 faktor-faktor yang mempengaruhi karir.

Tujuan
Dari pembahasan BK karir ini daharapkan dari seorang guru atau pendidik mampu mengetahui arti atau pemahaman dari BK karir itu sendiri.




BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Kerja, Okupasi dan Karier

1. Kerja

    Pada dasarnya hakikat kerja adalah bekerja dengan tulus dan ikhlas. Pekerjaan adalah usaha yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri atau umum, jadi orang bekerja itu bertujuan untuk mempertahankan eksistensi diri sendiri dan keluarganya. Dunia kerja adalah segala sesuatu yang harus dipersiapkan dalam melaksanakan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan.
    Kerja (work) atau Pekerjaan (Job) memiliki kesamaan kewajiban dan tugas-tugas pokok dalam suatu organisasi/unnit atau lembaga. Job berorientasi pada tugas dan hasil serta berpusat pada organisasi, dapat diduduki satu orang atau beberapa orang.
Dalam pekerjaan terdapat unsur-unsur (elements), tugas-tugas (tasks), dan posisi (pekerjaan yang lakukan/position) : Unsur (elements) merupakan komponen paling kecil dari suatu pekerjaan, misalnya : memutar musik, mengangkat buku, menekan tombol, menggali lubang, memindahkan dan lain-lain.
    Tugas (tasks) merupakan kinerja/untuk kerja yang dibutuhkan dalam bekerja. Task menampilkan kegiatan fisik atau mental yang membentuk langkah-langkah logis yang diperlukan dalam suatu pekerjaan. Beberapa unsur pekerjaan membentuk satu himpunan tugas. Super (1976) menyatakan bahwa tugas adalah suatu perbuatan yang dikehendaki pada pekerjaan atau dalam suatu permainan, misalnya : mengangkat bunga, menata bunga, menyiram bunga, menerima surat, membukukan surat, menyimpan surat dan lain-lain.
    Posisi (positions) merupakan sekelompok tugas-tugas (task) yang diselenggarakan seseorang/pekerja/pegawai, dibayar dan tidak bersifat pribadi. Tugas-tugas itu merupakan kewajiban dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Tugas-tugas itu membentuk suatu pekerjaan. Tolbert (1980) mengemukakan bahwa posisi adalah suatu kelompok aktivitas, tugas atau kewajiban dikerjakan oleh satu orang, misalnya : membaca konsep yang akan diketik, memasukkan kertas, mengetik surat sesuai format, mengeluarkan surat yang diketik, menyerahkan hasil ketikan pada atasan yang memberi tugas.

2. Okupasi

    Okupasi lebih luar dari job. Okupasi merupakan sekelompok job yang sama dijumpai dalam berbagai organisasi, umpamanya pengajar, pencipta lagu, dan seniman pertunjukan, ahli hukum, pilot, dan TNI.

3. Karir

    Karier bukan pekerjaan, melainkan serangkaian urutan (sequences) pekerjaan atau okupasi-okupasi pokok utama (major) yang dilaksanakan atau dijabat seseorang sepanjang hidupnya, atau dapat juga dikatakan bahwa karir seseorang terlambang pada urutan (suquences) jabatan-jabatan utama yang ditekuni seseorang selama kehidupannya.
Donal E.Super (dalam Dewa K.Sukardi, 1994:17) karir adalah sebagai suatu rangkaian pekerjaan-pekerjaan, jabatan-jabatan dan kedudukan yang mengarah pada kehidupan dalam dunia kerja. Sedangkan menurut Munandi (1996:237) karir adalah pengambilan keputusan kerja itu proses developmental dan pengambilan keputusan menyangkut pekerjaan itu suatu proses yang panjang serta pekerjaan itu sendiri berkembang.
Dapat disimpulkan karir sebagai suatu rangkaian pekerjaan, jabatan dan kedudukan yang mengarah pada kehidupan dalam dunia kerja dan mengambil keputusan menyangkut pekerjaan tersebut merupakan suatu proses yang panjang serta pekerjaan itu sendiri berkembang walaupun dalam pekerjaan yang sama.

B. Manusia Kerja dan Karier

    Kebutuhan manusia untuk memenuhi semua kebutuhannya, menjadikan usaha untuk mendapatkan dan meraih semua yang dibutuhkan dan diimpikan, dalam hal ini manusia akan melakukan usaha atau pekerjaan untuk mendapatkan hal yang ingin ia wujudkan. Dalam artian sempit manusia membutuhkan kerja untuk hidup.
Dalam proses panjang dalam menjalani pekerjaan, biasanya dilakukan secara bertahap dan meningkat atau karier. Namun ada juga dilakukkan sebatas propesi dan tuntutan kebutuhan yang memaksa untuk bekerja. Tetapi kejadiannya kembali bertolak dari keinginan memenuhi kebutuhan hidup, baik jasmaniah maupun rohaniah.

C. Struktur Kerja di Indonesia

    Sejak tahun 2000 Sakernas (Survei Angkatan Kerja Nasional) menerapkan konsep-konsep ketenagakerjaan sebagai berikut : lapangan pekerjaan atau sektor pekerjaan didasarkan pada KLUI (Klasifikasi lapangan Usaha Indonesia) tahun 2000, yang merupakan recisi dari KLUI tahun 1997. Jenis pekerjaan, sejak Sakernas 2001, kembali menggunakan ISCO (International Standard Classification of Occupation) tahun 1968 atau KJPI (Klasifikasi Jenis Pekerjaan Indonesia) tahun 1982.

    Sturktur kerja di Indonesia berdasarkan angkatan dapat di bagi menjadi dua, yaitu struktur umur dan struktur pendidikan.

a. Struktur Kerja berdasarkan Umur

    Dalam hal ini publikasi yang dibuat oleh Badan Pusat Statistik mengenai ketenagakerjaan, ada dua macam batasan umur. Pertama, memakai batas umur kerja 10 tahun ke atas dan yang kedua 15 tahun ke atas. Data yang dikaji pada tulisan ini menggunakan batasan usia kerja 15 tahun ke atas, jikapun ada pembanding yang memakai batas usia kerja 10 tahun ke atas, akan distandarkan terlebih dahulu pada usia 15 tahun ke atas.
Digunakan batas usia 15 tahun ke atas, akan memudahkan bagi perencana ketenagakerjaan di tingkat pusat maupun daerah, sebab pembuatan kebijakan ketenagakerjaan biasanya mendasarkan pada batasan usia kerja 15 tahun ke atas (Setiawan, 2000).

b. Struktur kerja berdasarkan pendidikan

    Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas tenaga kerja. Idealnya, tenaga kerja yang tersedia di suatu negara memiliki pendidikan yang memadai sesuai dengan kesempatan kerja yang tersedia, namun di negara-negara yang dalam kondisi masih sedang berkembang biasanya terjadi mismatch atau tidak sesuai dengan keahlian antara pendidikan dengan pekerjaan yang ditekuninya.
Pendidikan tenaga kerja, sering diukur dengan proporsi tenaga kerja berdasarkan pendidikan yang ditamatkan. Hal ini biasanya nampak pada struktur tingkat pendidikan dan pekerjaan yang dilakoni oleh pekerja yang sesuai dengan kemampuan tingkat pendidikannya.

D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Karier

Faktor-faktor yang mempengaruhi karier meliputi dua faktor yaitu faktor yang bersumber dari diri individu dan faktor yang bersumber dari lingkungan dan orang lain. Kedua faktor ini sangat berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung pada pemilih karier.

A. Faktor internal adalah faktor-faktor yang bersumber pada diri individu.

Kemampuan Inteligensi

Taraf inteligensi (kecerdasan) yaitu taraf kemampuan untuk mencapai prestasi-prestasi yang di dalamnya berpikir memegang peranan (Winkel, 1991:531). Kemampuan inteligensi yang dimiliki oleh individu memegang peran yang penting sebab kemampuan itelegensi yang dimiliki seseorang dapat dipergunakan sebagai pertimbangan dalam memasuki pekerjaan, jabatan atau karier dan juga sebagai pelengkap dalam mempertimbangkan memasuki suatu jenjang pendidikan tertentu.
Adanya suatu perbedaan kecepatan dan kesempurnaan individu dalam memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapinya, sehingga hal itu memperkuat asumsi bahwa kemampuan inteligensi itu memang ada dan berbeda-beda pada setiap orang, dimana orang yang memiliki taraf inteligensi yang lebih tinggi lebih cepat untuk memecahkan permasalahan yang sama bila dibandingkan dengan orang ynag memiliki taraf inteligensi yang lebih rendah. Kemampuan inteligensi yang dimiliki oleh individu memegang peranan yang penting, sebab kemampuan inteligensi yang dimiliki seseorang dapat dipergunakan sebagai pertimbangan dalam memasuki suatu pekerjaan, jabatan atau karir dan juga sebagai pelengkap dalam mempertimbangkan memasuki suatu jenjang pendidikan tertentu.
Tingkat inteligensi yang dimiliki oleh seseorang dalam satu jabatan tetentu dapat dipergunakan sebagai suatu pola acuan dalam merningkatkan promosi jabatannya, apakah mereka itu cocok dipromosikan dalam jabatan professional dan manajerial I, profesional dan manajerial II, skillet, semi skillet, unskilled ataukah tetap berada pada posisi semula kalau ditinjau dari jabatan structural.

Bakat
Rudi Mulyatiningsih (2004:91) bakat merupakan kemampuan yang dibawa sejak lahir.untuk itulah kiranya perlu sedini mumgkin bakat-bakat yang dimiliki seseorang atau anaka-anak disekolah diketahui dalam rangka memberikan bimbingan belajar yang paling sesuai dengan bakat-bakatnya dan lebih lanjut dalam rangka memprediksi bidang kerja, jabatan atau karir para murid setelah menamatkan studinya perlulah kiranya pada setiap siswa disekolah dilaksanakan tes bakat. Kemampuan itu jika diberi kesempatan untuk berkembang melalui belajar akan menjadi kecakapan yang nyata.
Sedangkan menurut Munandir (1992:17) bakat (aptitude) adalah kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud. Bakat memilki pengaruh dalam karir khususnya dalam kesuaian bakat dengan pilihan jabatan atau karir, individu cendrung memilih jabatan atau karir yang sesuai dengan bakatnya.

Minat
Minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari kombinasi, perpaduan dan campuran dari perasaan, harapan, prasangka, cemas, takut dan kecendrungan-kecendrungan lain yang bisa mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu (Dewa K.Sukardi, 1994:46). Sedangkan Munandir (1996:146) berpendapat bahwa minat adalah kecendrungan tingkah laku umum seseorang untuk tertarik kepada sekelompok hal tertentu. Minat merupakan daya yang mengarahkan individu untuk memanfaatkan waktu luangnya dalam melaksanakan hal yang paling disenangi untuk dilakukan. Minat sangat besar pengaruhnya dalam mencapai prestasi dalam suatu pekerjaan, jabatan atau karir.

Sikap
Sikap ialah kecendrungan seseorang untuk bertindak atau bertingkah laku (Rudi Mulyatiningsih, 2004:20). Dengan pengertian lain sikap dimiliki individu dalam mereaksi terhadap dirinya sendiri, orang lain atau situasi tertentu. Dalam memutuskan pilihan karier individu akan bersikap atau bertindak sesuai dengan keadaan atau situasi yang dihadapinya. Sikap individu berbeda-beda dalam menghadapi situasi sehingga dalam pemilihan karirnya individu akan bereaksi sesuai sikapnya sendiri. Reaksi positif dari individu terhadap suatu pekerjaan, jabatan atau karir merupakan suatu faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan untuk mencapai prestasi.

Kepribadian
Kepribadian diartikan sebagai suatu organisasi yang dinamis di dalam individu dari sistem-sistem psikofisik yang menentukan penyesuaian-penyesuaian yang Unik terhadap lingkungannya.
Terbentuknya pola kepribadian seseorang dipengarui oleh beberapa faktor yakni faktor bawaan (fisik dan psikis), faktor pengalaman awal dalam keluarga dan faktor pengalaman untuk kehidupan seterusnya. Faktor kepribadian ini memiliki peranan yang berpengaruh bagi seseorang dalam menentukan arah pilihan jabatan.

Nilai
Nilai adalah sifat-sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan (Dewa K. Sukardi, 1994:47). Dimana nilai bagi manusia di pergunakan sebagai suatu patokan dalam melaksanakan tindakan. Nilai-nilai yang dianut oleh individu berpengaruh terhadap pekerjaan yang dipilihnya, serta berpengaruh terhadap prestasi dalam pekerjaan. Individu yang memiliki nilai moral yang tinggi akan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi pula dalam pekerjaannya.

Hobi atau Kegemaran
Hobi adalah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan individu karena kegiatan tersebut merupakan kegemarannya atau kesenangannya. Biasanya individu menyesuaikan karier dengan hobinya. Dengan hobi yang dimilikinya seseorang memilih pekerjaan yang sesuai sudah barang tentu berpengaruh terhadap prestasi kerja yang dijabatnya.

Prestasi
Prestasi merupakan perwujudan dari bakat kemampuan (Utami Munandar, 1992:19) prestasi yang sangat menonjol dalam salah satu bidang mencerminkan bakat yang unggul dalam bidang tersebut.

Keterampilan
Keterampilan yang dapat pula diartikan cakap dan cekatan dalam mengerjakan sesuatu. Dengan pengertian lain keterampilan ialah penguasaan individu terhadap sesuatu perbuatan.

Penggunaan waktu senggang
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan diwaktu senggang agar mendapatkan kepuasan kerja biasanya dalam melaksanakan kegemaran dan hobi. Misalnya : olahraga, kemping, mendaki gunung, dll.

 Aspirasi dan pengetahuan pendidikan
Aspirasi dengan pendidikan sambungan yang diinginkan yang berkaitan dengan perwujudan cita-citanya.

Pengalaman kerja
Pengalaman kerja yang pernah dialami dan dilakukan individu akan memicu untuk melakukan perkerjaan itu kembali bila hal itu menarik perhatiannya kembali.

Keterbatasan fisik dan penampilan lahiriah.
Hal ini seringkali menjadi pemicu invididu untuk tidak melakukan suatu karier karena keterbatasan fisik dan penampilan lahiriah yang kurang mendukung.

Masalah dan keterbatasan pribadi
Masalah atau problema dari aspek diri sendiri selalu ada kecendrungan yang bertentangan apabila menghadapi masalah tertentu sehingga merasa tidak senang, benci, khawatir, takut, pasrah dan binggung apa yang harus dikerjakan.




B. Faktor Eksternal

    Disamping faktor yang ada pada diri individu, faktor luar juga memiliki pola kecendrungan yang berpengaruh terhadap pola jabatan, yaitu:

Orang tua
Dukungan positif dari orang tua sangat membantu dalam memilih karir yang diinginkan. Sebaliknya sebuah pemaksaan akan berakibat buruk bagi pemilihan karir dan jabatan.
 Masyarakat
Winkel (1991:536) masyarakat merupakan lingkaran sosial budaya dimana orang muda dibesarkan. Individu yang berada di lingkungan masyarakt tidak lepas dari pandangan-pandangan mereka, termasuk juga dalam pemilihan karier individu akan jabatan yang dipandang masyarakat baik.
Sosial ekonomi keluarga
Status sosial ekonomi keluarga berpengaruh pada pemilihan karir mengingat persyaratan memasuki jabatan memerlukan tingkat pendidikan tertentu dan tingkat pendidikan sangat dipengaruhi oleh tingkat sosial ekonomi keluarga.
Pergaulan
Teori John L. Holland menyatakan pemilihan pekerjaan atau jabatan adalah hasil dari interaksi antara faktor hereditas dengan segala pengaruh budaya, teman bergaul orang tua, orang dewasa yang dianggap memiliki peran yang penting.
Keadaan sosial ekonomi dan budaya
Menurut Winkel (1991:536) keadaan sosial ekonomi negara atau daerah yaitu laju pertumbuhan ekonomi yang lambat atau cepat, stratifikasi masyarakat dalam golongan sosial ekonomi tinggi, tengah dan rendah yang terbuka atau tertutup bagi anggota kelompok lain.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada dasarnya hakikat kerja adalah bekerja dengan tulus dan ikhlas. Pekerjaan adalah usaha yang ditujuakan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri atau umum, jadi orang bekerja itu bertujuan untuk mempertahankan eksistensi diri sendiri dan keluarganya. Dunia kerja adalah segala sesuatu yang harus dipersiapkan dalam melaksanakan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan.
    Okupasi merupakan sekelompok job yang sama dijumpai dalam berbagai organisasi, umpamanya pengajar, pencipta lagu, dan seniman pertunjukan, ahli hukum, pilot, dan TNI.
    karier sebagai suatu rangkaian pekerjaan, jabatan dan kedudukan yang mengarah pada kehidupan dalam dunia kerja dan mengambil keputusan menyangkut pekerjaan tersebut merupakan suatu proses yang panjang serta pekerjaan itu sendiri berkembang walaupun dalam pekerjaan yang sama.
Sejak tahun 2000 Sakernas (Survei Angkatan Kerja Nasional) menerapkan konsep-konsep ketenagakerjaan sebagai berikut: lapangan pekerjaan atau sektor pekerjaan didasarkan pada KLUI (Klasifikasi lapangan Usaha Indonesia) tahun 2000, yang merupakan recisi dari KLUI tahun 1997. Jenis pekerjaan, sejak Sakernas 2001, kembali menggunakan ISCO (International Standard Classification of Occupation) tahun 1968 atau KJPI (Klasifikasi Jenis Pekerjaan Indonesia) tahun 1982.

    Sturktur kerja di Indonesia berdasarkan angkatan dapat di bagi menjadi dua, yaitu struktur umur dan struktur pendidikan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Karir ada 2, yaitu :
faktor internal
Kemampuan Inteligensi
Bakat
Minat
 Sikap
Kepribadian
Nilai
hobi atau kegemaran
prestasi
keterampilan
penggunaan waktu senggang
faktor eksternal
orang tua
masyarakat
sosial ekonomi keluarga
pergaulan
keadaan sosial ekonomi dan budaya

Daftar Pustaka

Prof. DR. A. Muhammad Yusuf. 2002. Kiat Sukses Dalam Karier. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Sukardi, Dewa Ketut. 1994. Bimbingan Karier di Dsekolah-sekolah. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Mohamad Thayeb Manrihu. 1992. Pengantar Bimbingan Konseling Karir. Jakarta : Bumi Aksara

MAKALAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN DEWASA

MAKALAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN DEWASA
BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Manusia adalah yang makhluk istimewa yang diciptakan Tuhan karena memiliki akal budi. Melalui akal budi manusia dapat hidup sesuai dengan apa yang ada tempat  di mana dia hidup. Perkembangan yang dialami oleh manusia menjadikan dia lebih matang dalam menjalani kehidupan ini. Dewasa awal merupakan masa permulaan dimana seseorang mulai menjalani kehidupan ini. Dewasa awal merupakan masa permulaan dimana seseorang mulai menjalani hubungan secara intim dengan lawan jenis. Hurlock (1993) dia mengemukakan beberapa karakteristik dewasa awal dan pada salah satu intinya dikatakan bahwa dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru dan memanfaatkan kebebasan yang diperolehnya. Dari segi fisik masa dewasa awal adalah masa dari puncak perkembangan fisik. Perkembangan fisik sesudah masa ini mengalami degradasi sedikit-demi sedikit, mungkin mengikuti umur seseorang menjadi lebih tua. Pada segi emosional, pada masa awal adalah masa dimana motivasi untuk meraih sesuatu sangat besar yang didukung oleh fisik yang prima. Oleh karena itu, ada steriotipe yang mengatakan bahwa masa remaja awal  dan masa dewasa awal adalah masa dimana lebih mengutamakan fisik dari pada kekuatan fisik daripada kekuatan rasio dalam suatu masalah.
Dewasa awal adalah masa peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa. Peralihan dari ketergantungan ke masa mandiri baik dari ekonomi, kebebasan menentukan diri, dan pandangan masa depan lebih realistis. Secara hukum dewasa awal sejak seseorang menginjak usia 21 tahun (meskipun belum menikah) atau sejak seseorang menikah (meskipun belum berusia 21 tahun). Sedangkan dari lingkup pendidikan yaitu masa dicapainya kemasakan kognitif, afektif dan psikomotor sebagai hasil ajar latih yang ditunjang kesiapan. (Mappiare 15:1983)


B.  Rumusan Masalah
Apa pengertian dewasa awal?
Apa ciri-ciri perkembangan dewasa awal?
C.  Tujuan Penulisan
Mengetahui pengertian dewasa awal
Mengetahui ciri-ciri perkembanagn dewasa awal
D.    Manfaat Penulisan
Mengetahui berbagai pengertian dewasa awal dari beberapa ahli, serta mengetahui ciri-ciri perkembangan dewasa awal.

BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian dewasa awal
Istilah adult atau dewasa berasal dari kata kerja latin, yang berarti “tumbuh menjadi dewasa”. akan tetapi adult berasal dari bentuk lampau partisipel dari kata kerja adultus yang berarti “telah tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna”, atau “telah menjadi dewasa”. Oleh karena itu orang dewasa adalah seseorang yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukannya di dalam masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya (Elizabeth Hurlock, Developmental Psychology, 1991).
Dewasa awal adalah masa peralihan dari masa remaja. Hurlock (1986) mengatakan bahwa dewasa awal dimulai pada usia 18 tahun sampai kira-kira usia 40 tahun. Secara umum, mereka yang tergolong dewasa awal ialah mereka yang berusia 20-40 tahun. Dewasa awal adalah masa peralihan dari masa remaja. Masa remaja yang ditandai dengan pencarian identitas diri, pada masa dewasa awal, identitas diri ini didapat sedikit-demi sedikit sesuai dengan umur kronologis dan mental ege-nya.
Berbagai masalah juga muncul dengan bertambahnya umur pada masa dewasa awal. Dewasa awal adalah masa peralihan dari ketergantungan ke masa mandiri, baik dari segi ekonomi, kebebasan menentukan diri sendiri, dan pandangan tentang masa depan sudah lebih realistis.
Erickson (dalam Monks, Knoers & Haditono, 2001) mengatakan bahwa seseorang yang digolongkan dalam usia dewasa awal berada dalam tahap hubungan hangat, dekat dan komunikatif dengan atau tidak melibatkan kontak seksual. Bila gagal dalam bentuk keintiman maka ia akan mengalami apa yang disebut isolasi (merasa tersisihkan dari orang lain, kesepian, menyalahkan diri karena berbeda dengan orang lain).Hurlock (1990) mengatakan bahwa dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai kira-kira umur 40 tahun, saat perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif.
Secara umum, mereka yang tergolong dewasa muda (young ) ialah mereka yang berusia 20-40 tahun. Menurut seorang ahli psikologi perkembangan, Santrock (1999), orang dewasa muda termasuk masa transisi, baik transisi secara fisik (physically trantition) transisi secara intelektual (cognitive trantition), serta transisi peran sosial (social role trantition).
Perkembangan sosial masa dewasa awal adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa. Masa dewasa awal adalah masa beralihnya padangan egosentris menjadi sikap yang empati. Pada masa ini, penentuan relasi sangat memegang peranan penting. Menurut Havighurst (dalam Monks, Knoers & Haditono, 2001) tugas perkembangan dewasa awal adalah menikah atau membangun suatu keluarga, mengelola rumah tangga, mendidik atau mengasuh anak, memikul tangung jawab sebagai warga negara, membuat hubungan dengan suatu kelompok sosial tertentu, dan melakukan suatu pekerjaan. Dewasa awal merupakan masa permulaan dimana seseorang mulai menjalin hubungan secara intim dengan lawan jenisnya. Hurlock (1993) dalam hal ini telah mengemukakan beberapa karakteristik dewasa awal dan pada salah satu intinya dikatakan bahwa dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru dan memanfaatkan kebebasan yang diperolehnya.
Dari segi fisik, masa dewasa awal adalah masa dari puncak perkembangan fisik. Perkembangan fisik sesudah masa ini akan mengalami degradasi sedikit-demi sedikit, mengikuti umur seseorang menjadi lebih tua. Segi emosional, pada masa dewasa awal adalah masa dimana motivasi untuk meraih sesuatu sangat besar yang didukung oleh kekuatan fisik yang prima. Sehingga, ada steriotipe yang mengatakan bahwa masa remaja dan masa dewasa awal adalah masa dimana lebih mengutamakan kekuatan fisik daripada kekuatan rasio dalam menyelesaikan suatu masalah.
Pengertian dewasa awal menurut para ahli :
H. S. Becker
Dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian terhadap pola-pola kehidupan yang baru, dan harapan-harapan sosial yang baru. 

Havighurst (dalam Monks, Knoers dan Haditono: 2001)
tugas perkembangan dewasa awal adalah menikah atau membangun suatu keluarga, mengelola rumah tangga, mendidik atau mengasuh anak, memikul tanggung jawab sebagai warga negara, membuat hubungan dengan suatu kelompok sosial tertentu, dan melakukan suatu pekerjaan.
E. B. Hurlock, 1993
Masa dewasa awal atau “early adultood” terbentang sejak tercapainya kematangan secara hukum sampai kira-kita umur usia empat puluh tahun (dialami seseorang sekitar dua puluh tahun).

Ciri-ciri masa dewasa awal
Masa dewasa awal merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan sosial baru. Orang dewasa awal di harapkan memainkan peran baru, seperti peran suami atau istri orang tua ,dan pencari nafkah dan mengembangkan sikap-sikap baru, keinginan dan nilai-nilai baru sesuai dengan tugas-tugas baru ini. Penyesuaian diri ini menjadikan periode ini suatu periode khusus dan sulit dari rentang hidup seseorang. Periode ini sangat sulit sebab sejauh ini sebagian  besar anak mempunyai orang tua, guru, teman atau orang lain yang bersedia yang bersedia menolong mereka mengadakan penyesuaian diri. Apabila merekan menemui kesulitan-kesulitan yang sukar diatasi, mereka ragu ragu untuk meminta pertolongan dan nasehat orang lain, karena enggan dianggap “belum dewasa”.
Di bawah ini di uraikan secara ringkas ciri-ciri yang menonjol dalam tahun-tahun masa dewasa awal.
Menurut Hurlock, 1991:247-252, ciri-ciri umum perkembangan masa dewasa awal, yaitu:
Masa dewasa awal sebagai “masa pengaturan”
Masa dewasa awal merupakan masa pengaturan. Pada masa ini individu menerima tanggung jawab sebagai orang dewasa. Telah di katakan masa anak anak dan masa remaja merupakan periode merupakan “pertumbahan” dan dewasa merupakan “pengaturan” atau (setledown). Pada generasi-generasi terdahulu berada pandangan bahwa jika anak laki-laki dan wanita mencapai usia dewasa secara  syah, hari hari kebebasan mereka telah berakhir dan saatnya telah tiba untuk menerima tanggung jawab sebagai orang dewasa.ini berarti bahwa peria muda mulai membentuk bidang pekerjaan yang akan ditangani sebagai karirnya, sedangkan wanita muda mulai menerima tanggung jawab sebagai ibu dan pengurus rumah tangga.
Untuk mencoba berbagai pola kehidupan dan berganti ganti pacar agar dapat  memilih pola hidup dan pasangan hidup yang di rasa cocok, sudah tentu memerlukan waktu .dengan sendirinya pemuda sekarang  lebih lambat dalam segala usia dari pada orang tua mereka, apalagi bila di bandingkan dengan kakek mereka rata-rata pemuda dewasa sekarang mulai menentukan pola hidupnya dan  memilih pasangan hidupnya sekitar umur 30 tahun-an, walaupun banyak juga yang sudah mulai mantap pada usia yang lebih muda dari pada itu.
Kapan orang muda memulai hidup rumah tangga tergantung dua faktor :
Cepat atau tidaknya mereka mampu menemukan pola hidup yang memenuhi kebutuhan mereka kini dan pada masa depan.
Contohnya :
Seorang wanita yang sejak waktu dia bermain boneka sudah ingin menjadi seorang istri dan ibu, setelah tamat sekolah tidak akan memerlukan waktu lama lagi untuk menentukan peran yang sesuai baginya, seorang laki-laki yang selalu berkeinginan menjadi dokter tidak memerlukan coba-coba lagi untuk menentukan pekerjaan yang memenuhi suara hatinya.
Menentukan kemantapan atau pilihan seseorang bekerja tanggung jawab yang harus di pikulnya sebelum ia mulai berkarya.
Contohnya : pria yang memilih ilmu kedokteran sebagai karirnya tentu saja tidak dapat cepat-cepat siap bekerja sampai usianya mendekatai umur 30an karena ia harus menyelesaikan pendidikan sekolah atas dulu kemudian melanjutkan pendidikan sekolah dokter.

Sekali seorang menemukan pola hidup yang diyakininya dapat memenuhi kebutuhannya ia akan mengembangkan pola pola perilaku, sikap dan nilai-nilai yang cenderung akan menjadi kekhasannya selama sisa hidupnya. Setiap keharusan mengubah pola ini pada usia setengah baya atau usia lanjut akan sulit dan dapat menimbulkan gangguan emosional. Tidak di sangsikan lagi ,berbagai ketidakpuasan dan ketidak bahagiaan yang di dapati seseorang pada usia ini adalah akibat keputusan rumah tangga atau bekerja yang tergesa-gesa sebelum menemukan suatu pola hidup yang memberikan kemungkinan kemungkinan untuk kepuasan sepanjang hidup.

Masa usia dewasa awal sebagai “usia reproduktif”
Orang tua (parenthood) merupakan salah satu peran yang paling penting dalam hidup orang dewasa .orang yang kawin berperan sebagai orang tua pada waktu saat ia berusia 20an atau 30an,beberapa sudah menjadi kakek atau nenek sebelum masa awal berakhir. Awal yang belum menikah hingga menyelesaikan pendidikan atau telah memulai kehidupan karirnya, tidak akan menjadi orang tua sebelum ia merasa bahwa dia mampu berkeluarga. perasaan ini biasanya terjadi sesudah umurnya sekitar 30an.demikian pula, jika wanita ingin berkarir sesudah menikah ,ia akan menunda untuk mempunyai anak sampai usia 30an.dengan demikian baginya hanyalah dasa warsa terakhir dari  masa dewasa awal merupakan  “usia reproduktif”. Bagi orang yang cepat mempunyai anak dan mempunyai keluarga besar pada awal masa dewasa atau bahkan pada tahun tahun terakhir masa remaja kemungkinan seluruh masa dewasa awal merupakan masa reproduksi.
Masa dewasa awal sebagai “ masa bermasalah”
Dalam tahun-tahun awal masa dewasa banyak masalah baru yang harus dihadapi seseorang. Masalah-masalah baru ini dari segi utamanya berbeda dengan dari masalah-masalah yang sudah dialami sebelumnya.
Dengan menurunnya tingkat usia kedewasaan secara hukum menjadi 18 tahun, pada tahun 1970, anak-anak muda telah dihadapkan pada banyak masalah dan mereka tidak suiao untuk mengatasinya. Meskipun mereka sekarang dapat memberikan suaranya, memiliki harta benda, menikah tanpa persetujuan orang tuamserta dapat melakukan berbagai hal yang tidak dapat di lakukan orang muda ketika ketentuan usia dewasa secara hukum masih 21 tahun, jelas pula bahwa “kebebasan baru ini menimbulkan masalah-masalah yang tidak dapat diramalkan oleh orang dewasa yang masih muda itu sendiri maupun oleh kedua  orang tuanya”. Penyesuaian diri terhadap masalah masa dewasa awal menjadi lebih intensif dengan diperpendeknya masa remaja, sebab masa transisi untuk menjadi dewasa menjadi sangat pendek sehingga anak muda hamper tidak mempunyai waktu untuk membuat peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa..
Ada banyak alasan mengapa penyesuaian diri terhadap masalah-masalah pada masa dewasa awal begitu sulit :
Sedikit sekali orang muda yang mempunyai persiapan untuk menghadapi jenis-jenis masalah yang perlu diatasi sebagai orang dewasa
Mencoba menguasai dua atau lebih keterampilan serempak biasanya menyebabkan keduanya kurang berhasil
Mungkin yang paling berat dari semuanya orang-orang muda itu tidak memperoleh bantuan dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah mereka, tidak seperti sewaktu mereka dianggap belum dewasa

Masa dewasa awal sebagai “masa ketegangan emosional”
Banyak orang dewasa muda mengalami kegagalan emosi yang berhubungan dengan persoalan-persoalan yang dialaminya seperti persoalan jabatan, perkawinan, keuangan dan sebagainya. Ketegangan emosional seringkali dinampakkan dalam ketakutan-ketakutan atau kekhawatiran-kekhawatiran. Ketakutan atau kekhawatiran yang timbul ini pada umumnya bergantung pada ketercapainya penyesuaian terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi pada suatu saat tertentu, atau sejauh mana sukses atau kegagalan yang dialami dalam pergumulan persoalan.
Apabila ketegangan emosi terus berlanjut sampai tigapuluhan, hal itu umumnya Nampak dalam bentuk keresahan. Apa yang diresahkan orang-orang muda itu tergantung dari masalah-masalah penyesuaian diri yang harus dihadapi saat itu dan berhasil tidaknya mereka dalam upaya penyelesaian itu.

Masa dewasa awal sebagai “masa keterasingan sosial”
Dengan berakhirnya pendidikan formal dan terjunnya seseorang ke dalam pola kehidupan dewasa, yaitu kerier, perkawinan dan rumah tangga, hubungan dengan teman-teman kelompok sebaya masa remaja menjadi renggang, dan berbarengan dengan itu keterlibatan dalam kegiatan kelompok di luar rumah akan terus berkurang. Sebagai akibatnya, untuk pertama kali sejak bayi semua orang muda, bahkan yang populerpun, akan mengalami keterpencilan sosial atau apa yang disebut Erikson sebagai “krisis keterasingan”.
Keterasingan diintensifkan dengan adanya semangat bersaing dan hasrat kuat untuk maju dalam karier – dengan demikian keramahtamhan masa remaja di ganti dengan persaingan dalam masyarakat dewasa – dan mereka juga harus mencurahkan sebagian besar tenaga mereka untuk pekerjaan mereka, sehingga mereka hanya dapat menyisihkan waktu sedikit untuk sosialisasi yang diperlukan untuk membina hubungan-hubungan yang akrab. Akibatnya, mereka menjadi agosentis dan ini tentunya menambah kesepian mereka.
Masa dewasa dini sebagai “masa komitmen”
Setelah menjadi orang dewasa, individu akan mengalami perubahan, dimana mereka akan memiliki tanggung jawab sendiri dan memiliki komitmen-komitmen sendiri.
Mengenai komitmen, Bardwick (dalam Hurlock: 250) mengatakan: “Nampak tidak mungkin orang mengadakan komitmen untuk selama-lamanya. Hal ini akan menjadi suatu tanggung jawab yang terlalu berat untuk dipikul. Namun banyak komitmen yang mempunyai sifat demikian: Jika anda menjadi orangtua menjadi orang tua untuk selamanya; jika anda menjadi dokter gigi, dapat dipastikan bahwa pekerjaan anda akan terkait dengan mulut orang untuk selamanya; jika anda mencapai gelar doctor, karena ada prestasi baik di sekolah sewaktu anda masih muda, besar kemungkinan anda sampai akhir, hidup anda akan berkarier sebagai guru besar”
Masa dewasa dini sering merupakan masa ketergantungan.
Masa dewasa awal ini adalah masa dimana ketergantungan pada masa dewasa biasanya berlanjut. Ketergantungan ini mungkin pada orangtua, lembaga pendidikan yang memberikan beasiswa sebagian atau sepenuh atau pada pemerintah karena mereka memperoleh pinjaman untuk membiayai pendidikan mereka.
Meskipun telah mencapai status dewasa, banyak individu yang masih tergantung pada orang-orang tertentu dalam jangka waktu yang berbeda-beda. Ketergantungan ini mungkin pada orang tua yang membiayai pendidikan.
Masa dewasa dini sebagai masa perubahan nilai.
Perubahan terjadi karena adanya pengalaman dan hubungan sosial yang lebih luas dan nilai-nilai itu dapat dilihat dari kacamata orang dewasa. Perubahan nilai ini disebabkan karena beberapa alasan yaitu individu ingin diterima oleh anggota kelompok orang dewasa, individu menyadari bahwa kebanyakan kelompok sosial berpedoman pada nilai-nilai konvensional dalam hal keyakinan dan perilaku. Banyak nilai masa kanak-kanak dan remaja berubah karena pengalaman dan hubungan sosial yang lebih luas dengan orang-orang yang berbeda usia dan karena nilai-nilai itu kini dilihat dari kaca mata orang dewasa. Orang dewasa yang tadinya menganggap sekolah itu suatu kewajiban yang tidak berguna, kini sadar akan nilai pendidikan sebagai batu loncatan untuk meraih suatu keberhasilan social, karier, dan kepuasan pribadi. Akibat dari nilai-nilai yang berubah seperti itu, banyak orang dewasa yang semula putus sekolah atau universitas memutuskan untuk sekolah kembali dan belajar kembali menyelesaikan pendidikan mereka. Banyak yang merasakan kegiatan belajar sebagai perangsang semangat mereka, sehingga mereka mengikuti berbagai kursus setelah mereka tamat sekolah lanjutan atas maupun perguruan tinggi (Elizabeth B.Hurlock. 2009. hal.251).
Masa dewasa dini masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru.
Masa ini individu banyak mengalami perubahan dimana gaya hidup baru paling menonjol di bidang perkawinan dan peran orangtua. Perkawinan sesudah kehamilan tidak di anggap hal yang perlu dirahasiakan seperti dulu, di antara berbagai penyesuaian diri yang paling umum adalah penyesuaian diri pada pola seks atas dasar persamaan derajat yang menggantikan pembedaan pola peran seks pola seks tradisional serta pola pola baru bagi  kehidupan keluarga, termasuk perceraian, keluarga berorang tua tunggal dan berbagai pola baru di tempat pekerjaan khususnya pada unit-unit kerja yang besar dan impersonal di bidang bisnis dan industri
Masa dewasa dini sebagai masa kreatif.
Orang yang dewasa tidak terikat lagi oleh ketentuan dan aturan orangtua maupun guru-gurunya sehingga terlebas dari belenggu ini dan bebas untuk berbuat apa yang mereka inginkan. Bentuk kreatifitas ini tergantung dengan minat dan kemampuan individual. Bentuk kreativitas yang akan terlihat sesudah orang dewasa akan tergantung pada minat dan kemampuan individual, kesempatan untuk mewujudkan keinginan dan kegiatan-kegiatan yang memberikan kepuasan sebesar-besarnya. Ada yang menyalurkan kreativitasnya ini melalui hobi, ada yang menyalurkannya melalui pekerjaan yang memungkinkan ekspresi kreativitas.
Masa Dewasa Dini sebagai masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru. Di antara berbagai  penyesuaian diri yang harus dilakukan orang muda terhadap gaya hidup baru, yang paling umum adalah penyesuaian diri pada pola peran seks atas dasar persamaan derajat (egalitarian) yang menggantikan pembedaan pola peran seks tradisional, serta pola-pola baru bagi kehidupan keluarga, termasuk perceraian, serta berbagai pola baru.
Dewasa awal adalah masa kematangan fisik dan psikologis. Menurut Anderson (dalam Mappiare: 17), terdapat tujuh ciri kematangan psikologi,  sebagai berikut:
Berorientasi pada tugas, bukan pada diri atau ego; minat orang matang berorientasi pada tugas-tugas yang dikerjakannya, dan tidak condong pada perasaan-perasaan diri sendiri atau untuk kepentingan pribadi.
Tujuan-tujuan yang jelas dan kebiasaan-kebiasaan kerja yang efesien; seseorang yang matang melihat tujuan-tujuan yang ingin dicapainya secara jelas dan tujuan-tujuan itu dapat didefenisikannya secara cermat dan tahu mana pantas dan tidak serta bekerja secara terbimbing menuju arahnya.
Mengendalikan perasaan pribadi; seseorang yang matang dapat menyetir perasaan-perasaan sendiri dan tidak dikuasai oleh perasaan-perasaannya dalam mengerjakan sesuatu atau berhadapan dengan orang lain. Dia tidak mementingkan dirinya sendiri, tetapi mempertimbangkan pula perasaan-perasaan orang lain.
Keobjektifan; orang matang memiliki sikap objektif yaitu berusaha mencapai keputusan dalam keadaan yang bersesuaian dengan kenyataan.
Menerima kritik dan saran; orang matang memiliki kemauan yang realistis, paham bahwa dirinya tidak selalu benar, sehingga terbuka terhadap kritik-kritik dan saran-saran orang lain demi peningkatan dirinya.
Pertanggungjawaban terhadap usaha-usaha pribadi; orang yang matang mau memberi kesempatan pada orang lain membantu usaha-usahanya untuk mencapai tujuan. Secara realistis diakuinya bahwa beberapa hal tentang usahanya tidak selalu dapat dinilainya secara sungguh-sungguh, sehingga untuk itu dia bantuan orang lain, tetapi tetap dia bertanggung jawab secara pribadi terhadap usaha-usahanya.
Penyesuaian yang realistis terhadap situasi-situasi baru; orang matang memiliki cirri fleksibel dan dapat menempatkan diri dengan kenyataan-kenyataan yang dihadapinya dengan situasi-situasi baru
Optimalisasi Perkembangan Masa Dewasa awal, Dewasa dini/awal adalah masa dimana seluruh potensi sebagai manusia berada pada puncak perkembangan baik fisik maupun psikis. Masa yang memiliki rentang waktu antara 20 – 40 tahun adalah masa-masa pengoptimalan potensi yang ada pada diri individu. Jika masa ini bermasalah, akan mempengaruhi bahkan kemungkinan individu mengalami masalah yang paling serius pada masa selanjutnya.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Masa dewasa adalah masa yang sangat panjang (20 – 40 tahun), dimana sumber potensi dan kemampuan bertumpu pada usia ini. Masa ini adalah peralihan dari masa remaja yang masih dalam ketergantungan menuju masa dewasa, yang menuntut kemandirian dan di ujung fase ini adalah fase dewasa akhir, dimana kemampuan sedikit demi sedikit akan berkurang. Sehingga masa dewasa awal adalah masa yang paling penting dalam hidup seseorang dalam masa penelitian karir/pekerjaan/sumber penghasilan yang tetap.
Masa ini juga adalah masa dimana kematangan emosi memegang peranan penting. Seseorang yang ada pada masa ini, harus bisa menempatkan dirinya pada situasi yang berbeda; problem rumah tangga, masalah pekerjaan, pengasuhan anak, hidup berkeluarga, menjadi warga masyarakat, pemimpin, suami/istri membutuhkan kestabilan emosi yang baik

Saran
Penulis tahu bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Maka dari itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun agar bisa membuat makalah yang lebih baik untuk kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, E. B. (1994). Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentaang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Morks, F.J., Knoers. A.M.P & Hadinoto S.R (2001). Psikologi Perkembangan: Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Santrock (2007). Perkembangan Anak Jilid 1. Jakarta : Erlangga
Santrock (2002). Life- span development (perkembangan masa hidup), jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Mappiare, Andi (1983). Psikologi orang dewasa. Surabaya: usaha nasional.
Julius, dkk. 198 Drs. Johan W Kandau (1991). Psikologi umum, Jakarta :PT. Gramedia Pustaka Utama.

MAKALAH PSIKOLOGI KEPRIBADIAN

MAKALAH PSIKOLOGI KEPRIBADIAN
PENGERTIAN PSIKOLOGI, PSIKOLOGI KEPRIBADIAN DAN PERSAMAANNYA
Pengertian psikologi
     Psikologi berasal dari bahasa Yunani Psychology yang merupakan gabungan dan kata psyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Secara harafiah psikologi diartikan sebagal ilmu jiwa. Istilah psyche atau jiwa masih sulit didefinisikan karena jiwa itu merupakan objek yang bersifat abstrak, sulit dilihat wujudnya, meskipun tidak dapat dimungkiri keberadaannya. Dalam beberapa dasawarsa ini istilah jiwa sudah jarang dipakai dan diganti dengan istilah psikis.

Psikologi menurut para ahli :
Ernest hilgert (1957) dalam bukunya introduction to psychology.
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan lainnya.
George A. Miller (1974:4) dalam bukunya psychology and communication.
Psikologi adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan tingkah laku.
Cliffort T. Morgan (1961:2) dalam bukunya introduction to psychology.
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan.
Robert S. Woodworth dan marquis DG (1975:7) dalam bukunya psychology.
Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas atau tingkah laku individu dalam hubungan dengan alam sekitar.

PSIKOLOGI KEPRIBADIAN DAN PERSAMAANNYA
Kata kepribadian (personality) sesungguhnya berasal dari kata latin: persona. Pada mulanya, kata persona ini menunjuk pada topeng yang biasa digunakan oleh pemain sandiwara di zaman romawi dalam memainkan peran-perannya. Pada saat itu, setiap pemain sandiwara memainkan perannya masing-masing sesuai dengan topeng yang dikenakannya. Lambat laun, kata persona (personality) berubah menjadi satu istilah yang mengacu pada gambaran social tertentu yang diterima oleh individu dari kelompok atau masyarakatnya, kemudian individu tersebut diharapkan bertingkah laku berdasarkan atau sesuai dengan gambaran social (peran) yang diterimanya (koswara, 1991:10)
Kepribadian menurut para ahli :
Allport (1971)
Kepribadian adalah organisasi-organisasi dinamis dari system-sistem psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik/khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Koentjaraningrat (1980)
Menyebut kepribadian atau personality sebagai susunan unsure-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari tiap-tiap individu manusia.
Herman (1969)
Berpendapat bahwa pengertian kepribadian yang masih bersifat teoritis ini, yang juga dapat disebut masih merupakan suatu construct, sangat kabur defenisinya. Oleh karena itu, menurut herman, defenisi lebih baik itu diberikan sesudah dilakukan penelitian-penelitian lebih lanjut ketimbang diberikan sekarang.
Menurut para psikolog, istilah kepribadian mempunyai arti yang lebih dari pada sekedar sifat menarik. Sifat itu bermacam-macam, antara lain :
Ada yang berkenaan dengan cara orang berbuat, seperti tekun, tabah dan cepat.
Ada yang menggambarkan sikap, seperti sosiabilitas dan patriotism
Ada yang berhubungan dengan minat, seperti estetis, atletis, dan sebagainya.
Yang terpenting ialah temperamen emosional, meliputi optimism, pesimisme, mudah bergejolak dan tenang.

Diantara berbagai perbedaan, sebagian besar defenisi yang dirumuskan oleh para psikolog, khususnya oleh para teoretisi kepribadian, memiliki beberapa persamaan yang mendasar, yaitu :
Pada umumnya, defenisi menekannkan perlunya memahami arti perbedaan-perbedaan individual. Dengan istilah kepribadian, keunikan dari setiap individu ternyatakan. Dan melalui studi mengenai kepribadian, sifat-sifat individu yang menbedakannya dengan individu lain diharapkan menjadi jelas atau bias lebih dipahami. Singkat kata, para teoretisi kepribadian memandang kepribadian sebagai sesuatu yang unik atau khas pada diri setiap orang.
Pada umumnya, defenisi melukiskan kepribadian sebagai suatu stuktur atau organisasi hipotesis, dan tingkah laku dilihat sebagai sesuatu yang diorganisasi dan diintegrasikan oleh kepribadian. Atau dengan kata lain, kepribadian dipandang sebagai organisasi yang menjadi penentu atau pengarah tingkah laku.
Pada umumnya, defenisi menekankan pentingnya melihat kepribadian dari sudut sejarah hidup, perkembangan, dan perspektif. Kepribadian menurut para teoretisi kepribadian, merepresentasikan proses keterlibatan subjek atau individual atas pengaruh internal dan eksternal, yang mencakup factor genetic atau biologis, pengalaman social, dan perubahan lingkungan. Atau dengan kata lain, corak dan keunikan kepribadian individu ditentukan atau dipengaruhi oleh factor-faktor bawaan dan lingkungan.

Referensi :
Sobur,Alex.2009.Psikologi Umum.Bandung:CV Pustaka Setia  

Perkembangan Sosial Remaja

Perkembangan Sosial Remaja

BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Pertumbuhan merupakan suatu proses yang dilalui seseorang selama masa perkembangan hidupnya. Berkaitan dengan perkembangan remaja, perlu disadari bahwa proses perkembangan itu terjadi melalui pengalaman dalam belajar. Para orangtua, guru, dan para pendidik lainnya yang bertanggung jawab dalam perkembangan remaja perlu memahami tugas-tugas perkembangan anak dan cara melayani anak yang sedang mengalami perkembangan. Apalagi hal yang berkaitan dengan perkembangan sosial remaja yang merupakan suatu hal yang perlu dipahami oleh para guru maupun orang-orang yang bertugas mendidik remaja, karena perkembangan sosial sangat penting untuk mengembangkan kepribadian dan prestasi belajar remaja.
Perkembangan sosial remaja sangat penting bagi kehidupan remaja selanjutnya. Perkembangan sosial mempengaruhi remaja dalam hubungan sosialnya dengan teman sebaya dan orang tua dan yang paling essensial dari perkembangan sosial remaja adalah pencarian identitas atau jati diri. Apabila perkembangan sosial tidak mengalami kesuksesan maka remaja tidak akan dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangan sosialnya dengan baik, sehingga pada masa dewasa akan mengalami kesulitan dalam kehidupan sosialnya.
Remaja yang berkembang baik kepribadiannya, salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasainya adalah membina hubungan sosial dengan teman sebaya maupun dengan orang dewasa selain dari guru dan orang tua. Remaja dapat berprestasi maksimal dalam belajar jika ia diterima dan dikagumi dalam kelompok sebayanya dan mampu memecahkan masalah social secara baik dengan orang dewasa terutama orangtua dan orang-orang dewasa lainnya. Tingkah laku social remaja dipengaruhi oleh berbagai factor seperti teman sebaya, orang tua, saudara kandung, guru, perkembangan kognitif dan konsep diri. Oleh karena itu dalam makalah ini kami akan membahas tentang perkembangan sosial remaja.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah :
1. Hakikat Perkembangan Sosial Remaja
2. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial Remaja
3. Masalah yang Terkait dengan Perkembangan Sosial Remaja
4. Upaya Menumbuhkembangkan Perkembangan Sosial Remaja
5. Upaya Guru Pembimbing Mengatasi Masalah Perkembangan Sosial Remaja Sesuai Bidang Bimbingan

C. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui dan memahami hakikat perkembangan sosial remaja.
2. Untuk mengetahui dan memahami faktor yang mempengaruhi perkembangan Sosial remaja.
3. Untuk mengetahui dan memahami masalah yang terkait dengan Perkembangan sosial remaja.
4. Untuk mengetahui dan memahami upaya menumbuhkembangkan perkembangan sosial remaja.
5. Untuk mengetahui dan memahami upaya guru pembimbing mengatasi masalah perkembangan sosial remaja sesuai bidang bimbingan.

D. Manfaat Penulisan
1. Pembaca dapat mengetahui hakikat perkembangan sosial remaja.
2. Pembaca dapat mengetahui faktor yang mempengaruhi perkembangan Sosial remaja.
3. Pembaca dapat mengetahui masalah yang terkait dengan Perkembangan sosial remaja.
4. Pembaca dapat mengetahui upaya menumbuhkembangkan perkembangan sosial remaja.
5. Pembaca dapat mengetahui upaya guru pembimbing mengatasi masalah perkembangan sosial remaja sesuai bidang bimbingan.

BAB II

PEMBAHASAN


A. Hakikat Perkembangan Sosial Remaja
Perkembangan sosial pada masa remaja merupakan puncak dari perkembangan sosial dari fase-fase perkembangan. Bahkan, terkadang, perkembangan sosial remaja lebih mementingkan kehidupan sosialnya di luar ikatan sosialnya dalam keluarga. Perkembangan sosial remaja pada fase ini merupakan titik balik pusat perhatian. Lingkungan sosialnya sebagai perhatian utama.
Pada usia remaja pergaulan dan interaksi sosial dengan teman sebaya bertambah luas dan kompleks dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya termasuk pergaulan dengan lawan jenis. Pemuasan intelektual juga didapatkan oleh remaja dalam kelompoknya dengan berdiskusi, berdebat untuk memecahkan masalah. Mengikuti organisasi sosial juga memberikan keuntungan bagi perkembangan sosial remaja, namun demikian agar remaja dapat bergaul dengan baik dalam kelompoknya diperlukan kompentensi sosial yang berupa kemampuan dan keterampilan berhubungan dengan orang lain.
Syamsu (2001: 198) menjelaskan bahwa pada masa remaja perkembangan “social cognition”, yaitu kemampuan untuk memahami orang lain. Remaja memahami orang lain sebagai individu yang unik, baik yang menyangkut sifat-sifat pribadi, minat nilai-nilai maupun perasaannya. Pemahamannya ini, mendorong remaja untuk menjalin hubungan sosial yang lebih akrab dengan mereka (terutama teman sebaya), baik melalui jaringan persahabatan maupun percintaan (pacaran).
Selanjutnya Syamsu (2001: 198) menjelaskan bahwa pada masa ini juga perkembangan sikap “conformity”, yaitu kecenderungan untuk menyerah atau mengikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran (hobby) atau keinginan orang lain (teman sebaya). Perkembangan sikap konformitas remaja memberikan dampak yang positif maupun yang negatif bagi dirinya.

Ada beberapa pengertian tentang perkembangan sosial, yaitu :
1. Menurut Elizabeth B. Hurlock, perkembangan sosial adalah kemampuan seseorang dalam bersikap atau tata cara perilakunya dalam berinteraksi dengan unsur sosialisasi di masyarakat.
2. Singgih D Gunarsah, perkembangan sosial merupakan kegiatan manusia sejak lahir, dewasa, sampai akhir hidupnya akan terus melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan sosialnya yang menyangkut norma-norma dan sosial budaya masyarakatnya.
3. Abu Ahmadi, berpendapat bahwa perkembangan sosial telah dimulai sejak manusia itu lahir. Sebagai contoh, anak menangis saat dilahirkan, atau anak tersenyum saat disapa. Hal ini membuktikan adanya interaksi sosial antara anak dan lingkungannya.
4. Perkembangan sosial adalah kemajuan yang progresif melalui kegiatan yang terarah dari individu dalam pemahaman atas warisan sosial dan formasi pola tingkah lakunya yang luwes. Hal itu disebabkan oleh adanya kesesuaian yang layak antara dirinya dengan warisan sosial itu.
Jadi, dapat diartikan bahwa perkembangan sosial akan menekankan perhatiannya kepada pertumbuhan yang bersifat progresif. Seorang individu yang lebih besar tidak bersifat statis dalam pergaulannya, karena dirangsang oleh lingkungan sosial, adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan kelompok dimana ia sebagai salah satu anggota kelompoknya.

B. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial Remaja
Ada tiga faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial remaja, yaitu :
1. Pengaruh Orang Tua
Orang tua sangat mempengaruhi perkembangan tingkah laku sosial remaja. Remaja telah diperkenalkan tingkah laku-tingkah laku sosial, dan nilai-nilai bertingkah laku yang dijunjung tinggi oleh orang tua. Disamping itu hubungan dengan orang tua merupakan hubungan paling akrab dibandingkan dengan siapapun dalam kehidupan remaja. Hubungan yang mendalam dan akrab besar pengaruhnya terhadap proses sosialisasi remaja. Namun, karena remaja menjadi mandiri dan tidak mau lagi bergaul, diatur serta dituntut patuh oleh orang tua dalam kehidupan sosial, maka terjadi konflik antara orang tua dan remaja.
Andaikan konflik antara remaja dan orang tua berlangsung terus menerus akibatnya adalah kemandirian sosial yang sempurna tidak akan tercapai, karena hal berikut:
a. Orang tua (lingkungan sosial) yang membatasi kesempatan bagi remaja untuk mengambil keputusan sendiri, maka tindakan orang tua seperti ini tidak memberi kesempatan pada remajanya untuk mandiri.
b. Orang tua tidak dapat dijadikan model untuk memperoleh kemandirian sosial, karena orang tua ini memiliki sifat tergantung. Orang tua yang tidak mandiri cenderung tidak memberikan kesempatan mandiri bagi anak-anaknya dalam bertingkah laku sosial.
Biasanya pertentangan antara orang tua dan remaja tidak akan berlangsung lama dan akhirnya menjadi hubungan yang harmonis. Jika terjadi hubungan yang harmonis kembali dengan orang tua, maka remaja dapat memperkenalkan nilai-nilai baru kepada orang tuanya, sehingga orang tua dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Para ahli social learning seperti Bandura (1980), Gewirz (1969) menyatakan bahwa nilai-nilai yang dianut oleh orang tua diadopsi oleh anak dengan cara meniru. Jika mereka remaja maka nilai-nilai itu mempengaruhi tingkah laku social remaja. Berikut ini dikemukakan berbagai tipe pemeliharaan yang dilakukan oleh orang tua dan bentuk tingkah laku sosial yang akan dimiliki remaja.
a. Tipe pemeliharaan menunjukkan cinta yang tulus dan sepenuh hati atau cinta tanpa syarat terhadap anak dan remajanya, maka anak dan remajanya memperlihatkan hubungan sosial yang baik dengan orang lain, cenderung memperlihatkan penilaian yang positif terhadap orang lain karena ia memiliki penilaian yang positif terhadap dirinya sendiri.
b. Tipe pemeliharaan yang hangat, dalam memberikan batasan-batasan dan disiplin terhadap anak dan remaja maka dalam bersosialisasi menampakkan tingkah laku yang sopan santun, mudah bekerja sama, kurang agresif, mandiri dan memiliki sifat bersaing yang sehat dengan teman sebaya.
c. Tipe pemeliharaan yang hangat tetapi terlalu bebas dibandingkan dengan tingkat perkembangan mereka, anak-anak dan remaja mereka cenderung bertingkah laku sosial yang tegas. Mereka cenderung agresif dan kurang mampu bekerja sama.
d. Tipe pemeliharaan yang menolak atau memusuhi, mengakibatkan remaja bertingkah laku sosial yang buruk sehingga cenderung menampilkan hubungan sosial yang buruk dengan teman sebaya, maupun dengan orang dewasa akan bertingkah laku nakal. Disamping itu, mereka menjadi berprestasi rendah dibandingkan kemampuan kognitif yang mereka miliki.
e. Tipe pemeliharaan yang terlalu membatasi tingkah laku anak dan remajanya, menimbulkan tingkah laku sosial yang salah suai karena anak memiliki perasaan yang tidak puas tentang dirinya. Anak yang dibesarkan dengan pemeliharaan seperti ini mempunyai dorongan keingintahuan yang rendah, kurang kreatif dan fleksibel dalam menghadapi masalah.
Status orang tua mempengaruhi hubungan sosial remaja. Status orang tua yang dimaksud adalah status pernikahan tanpa suami atau tanpa istri. Jika remaja wanita hanya dibesarkan oleh ibu saja maka hubungan sosialnya dengan pria kurang lancar karena memiliki perasaan malu yang berlebihan, merasa tidak nyaman kalau berhadapan dengan pria dan bahkan ada yang bersikap keras terhadap pria. Remaja pria yang dibesarkan tanpa ayah kurang menampakkan sikap yang tegas dalam berhubungan sosial dengan teman sebaya, terutama lawan jenis.

2. Pengaruh sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan resmi yang bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan kepada siapapun yang berhak. Oleh karena itu remaja banyak menghabiskan waktunya di sekolah semenjak berumur 4 tahun. Dengan demikian, sekolah mempengaruhi tingkah laku remaja khususnya tingkah laku sosial remaja. Di sekolah seharusnya banyak dilakukan kegiatan kelompok untuk mengembangkan tingkah laku sosial seperti kerjasama, saling membantu, saling menghormati dan menghargai misalnya kelompok belajar, kelompok pengembangan bakat khusus seperti kelompok menyanyi, menari, olahraga dan keterampilan khusus lainnya.
Fungsi sekolah lainnya dalam mengembangkan tingkah laku sosial adalah menyiapkan model-model bertingkah laku sosial baik itu guru, petugas administrasi maupun siswa-siswa lainnya.

3. Pengaruh teman sebaya
Kelompok teman sebaya memungkinkan remaja belajar keterampilan sosial, mengembangkan minat yang sama dan saling membantu dalam mengatasi kesulitan dalam rangka mencapai kemandirian. Teman sebaya dijadikan tempat memperoleh sokongan dan penguatan, guna melepaskan diri dari ketergantungan terhadap orang tua. Begitu pentingnya peranan teman sebaya bagi perkembangan sosial remaja, maka apabila terjadi penolakan dari kelompok teman sebaya dapat menghambat kemajuan dalam hubungan sosial.

C. Masalah yang Terkait dengan Perkembangan Sosial Remaja
Masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kelompok sosial atau menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok anggota kelompok sosial tersebut sehingga terjadi kepincangan sosial.
Masalah yang terkait dengan perkembangan sosial remaja adalah :
1. Siswa tidak toleran dan bersikap superior.
2. Kaku dalam bergaul.
3. Peniruan buta terhadap teman sebaya.
4. Kontrol orang tua
5. Perasaan yang tidak jelas terhadap dirinya atau orang lain.
6. Kurang dapat mengendalikan diri dari rasa marah dan sikap permusuhannya.
7. Sikap yang sangat agresif dan sangat yakin pada diri sendiri.
8. Perasaan tidak aman, yang menyebabkan remaja patuh mengikuti standar-standar kelompok.
9. Perasaan menyerah.
10. Terlalu banyak berkhayal untuk mengimbangi ketidakpuasan yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari.
11. Mundur ke tingkat perilaku yang sebelumnya agar supaya disenangi dan diperhatikan.
12. Terkenal sebagai orang yang tidak sportif.
13. Penampilan yang tidak sesuai dengan standar kelompok dalam hal daya tarik fisik atau tentang kerapian.
14. Perilaku sosial yang ditandai oleh perilaku menonjolkan diri, menggangu dan menggertak orang lain, senang memerintah, tidak dapat bekerja sama dan kurang bijaksana.
15. Kurangnya kematangan, terutama kelihatan dalam hal pengendalian emosi, ketenangan, kepercayaan diri dan kebijaksanaan.
16. Sifat-sifat kepribadian yang mengganggu orang lain seperti mementingkan diri sendiri, keras kepala, gelisah, dan mudah marah.
17. Status sosioekonomis di bawah status sosioekonomis kelompok dan hubungan yang buruk dengan anggota-anggota keluarga.
18. Tempat tinggal yang terpencil dari kelompok atau ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelompok karena tanggung jawab keluarga atau karena bekerja sambilan.

D. Upaya Menumbuhkembangkan Perkembangan Sosial Remaja
Hal yang harus dilakukan remaja dalam upaya menumbuhkembangkan perkembangan sosialnya adalah:
1. Di Lingkungan Keluarga
• Menjalin hubungan yang baik dengan para anggota keluarga.
• Menerima otoritas orang tua dan mau mentaati peraturan yang ditetapkan orang tua.
• Menerima tanggung jawab dan batasan-batasan (norma) keluarga.
• Berusaha untuk membantu anggota keluarga, sebagai individu maupun kelompok dalam mencapai tujuannya.
2. Di Lingkungan Sekolah
• Bersikap respek dan mau menerima peraturan sekolah.
• Berpartisipasi aktif dalam kegiatan sekolah.
• Menjalin persahabatan dengan teman-teman di sekolah.
• Bersikap hormat dan patuh terhadap guru dan semua personil sekolah.
• Membantu sekolah dalam merealisasikan tujuan-tujuannya.
3. Di Lingkungan Masyarakat
• Mengakui dan respek terhadap hak-hak orang lain.
• Memelihara jalinan persahabatan dengan orang lain.
• Bersikap simpati terhadap kesejahteraan orang lain.
• Bersikap respek terhadap nilai-nilai, hukum, tradisi, dan kebijakan masyarakat.

E. Upaya Guru Pembimbing Mengatasi Masalah Perkembangan Sosial Remaja Sesuai Bidang Bimbingan
Dalam masalah sosial, guru pembimbing sangat dibutuhkan dalam menangani masalah ini. Dengan cara mendiagnosis masalah sosial siswa, diagnosis dilakukan dalam rangka memberikan solusi terhadap siswa yang mengalami masalah sosial. Untuk mendapatkan solusi secara tepat atas permasalahan sosialnya, guru pembimbing harus terlebih dahulu melakukan identifikasi dalam upaya mengenali gejala-gejala secara cermat terhadap fenomena-fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya permasalahan sosial yang melanda siswa. Diagnosis dilakukan untuk mengetahui dan menetapkan jenis masalah yang dihadapi klien lalu menentukan jenis bimbingan yang akan diberikan. Dalam melakukan diagnostic sosial siswa perlu ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:

1. Mengenal peserta didik yang mengalami masalah sosial.
Dalam mengenali peserta didik yang mengalami masalah sosial, cara yang paling mudah adalah dengan melaksanakan sosiometri. Sosiometri merupakan suatu metode untuk mengumpulkan data tentang pola dan struktur hubungan antara individu-individu dalam suatu kelompok. Sehingga, akan tergambar siswa yang mengalami masalah sosial.
2. Memahami sifat dan jenis masalah sosial.
Langkah kedua dari diagnosis masalah sosial ini mencari dalam hubungan apa saja peserta didik mengalami masalah sosial. Dalam hal ini guru pembimbing memperhatikan bagaimana perilaku siswa dalam pergaulan, baik di sekolah, rumah dan masyarakat.
3. Menetapkan latar belakang masalah sosial.
Langkah ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang latar belakang yang menjadi sebab timbulnya masalah sosial yang dialami siswa. Cara ini dilakukan dengan mengamati tingkah laku siswa yang bersangkutan, selanjutnya dilakukan wawancara dengan guru, wali kelas, orang tua dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan informasi yang luas dan jelas.
4. Menetapkan usaha-usaha bantuan.
Setelah diketahui sifat dan jenis masalah sosial serta latar belakangnya, maka langkah selanjutnya ialah menetapkan beberapa kemungkinan tindakan-tindakan usaha bantuan yang akan diberikan, berdasarkan data yang diperoleh.
5. Pelaksanaan bantuan.
Langkah ini merupakan pelaksanaan dari langkah sebelumnya, yakni melaksanakan kemungkinan usaha bantuan. Pemberian bantuan dilaksanakan secara terus menerus dan terarah dengan disertai penilaian yang tepat sampai pada saat yang diperkirakan. Bantuan untuk mengentaskan masalah sosial terutama menekankan akan penerimaan sosial dengan mengurangi hambatan-hambatan yang menjadi latar belakangnya. Pemberian bantuan ini bisa dilakukan melalui layanan konseling kelompok yang memanfaatkan dinamika kelompok.
6. Tindak lanjut.
Tujuan langkah ini ialah untuk menilai sejauh manakah tindakan pemberian bantuan telah mencapai bantuan telah mencapai hasil yang diharapkan. Tindak lanjut dilakukan secara terus menerus, baik selama, maupun sesudah pemberian bantuan. Dengan langkah ini dapat diketahui keberhasilannya.

Dalam menjalankan tugasnya, guru pembimbing harus mengacu kepada BK pola 17 plus karena guru pembimbing sebagai sosok dalam penentu berhasil atau tidaknya proses konseling itu. Adapun BK pola 17 plus itu terdiri atas enam jenis bidang bimbingan: bimbingan pribadi, belajar, sosial, karir, berkeluarga, beragama. Dan sembilan jenis layanan: layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan konten, konseling perorangan, bimbingan kelompok, konseling kelompok, konsultasi, mediasi. Serta lima kegiatan pendukung: aplikasi instrumentasi, himpunan data, konfrensi kasus, kunjungan rumah, dan alih tangan kasus. Satuan dari kegiatan pola BK 17 plus sebagai berikut : Dalam bidang bimbingan sosial, pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah berusaha membantu peserta didik mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosialnya, yang dilandasi budi pekerti dan tanggung jawab kemasyarakatan dan bernegara. Bimbingan pribadi berorientasi pada diri individu sendiri, bidang pengembangan sosial, yaitu hubungan individu dengan orang-orang lain. Unsur-unsur komunikasi dan kebersamaan dalam arti yang seluas-luasnya menjadi acuan pokok dalam bidang pengembangan sosial.
 

BAB III

PENUTUP


A. Kesimpulan
Perkembangan sosial merupakan suatu tugas perkembangan yang harus dikuasai pada periode remaja. Remaja dituntut dapat bersosialisasi dalam lingkungan yang lebih luas daripada hanya dalam lingkungan keluarga dan sekolah. Mereka dituntut mampu bersosialisasi dalam lingkungan masyarakat orang dewasa yang lebih luas. Bertingkah laku sosial pada periode remaja berarti melakukan proses sosialisasi sesuai dengan aturan yang berlaku di masyarakat, sehingga sukses dalam kehidupan kelompok sebaya maupun dalam masyarakat umumnya.
Remaja yang berkembang tingkah laku sosialnya dapat diketahui dari ketertarikannya terhadap lawan jenis, kemandirian sosial, kesenangan berkelompok dengan teman sebaya. Untuk itu mereka sangat membutuhkan keterampilan sosial dan kepribadian yang dapat diterima dalam kelompok serta menghindari kepribadian yang ditolak oleh kelompok.

B. Saran
Masa remaja merupakan masa dimana individu mencari identitas atau jati dirinya, dalam fase ini remaja mengalami kesulitan dalam menjalani perkembangan sosialnya, agar remaja tidak terjerumus ke dalam lingkungan sosial yang menyimpang, oleh sebab itu peran guru dan orang tua menjadi sangat penting dalam membantu remaja mengatasi hambatan-hambatannya dalam kehidupan sosialnya.